Pelajaran di Masjid Khandahar
Pelajaran di Masjid Khandahar
Buletin Jum’at ini diterbitkan oleh Sariyah Dakwah wal I’lam Jamaah Ansharut Tauhid
April 30, 2009
Bismillahirrahmanirrahim
Setelah sholat ashar, salah seorang Mulla (Syaikh, Ustadz)
yang sudah biasa mengajar di jami’ masjid Kandahar duduk bersandar pada
salah satu sudut masjid, kemudian beberapa puluh pemuda kelihatan
berebutan untuk duduk mendekatinya. Setelah melihat murid muridnya duduk
dengan tertib, Mulla itu berkata sambil menunjukkan sebuah kitab yang
di bawanya: Saya membawa Kitab Sejarah Kandahar, dan hari ini kita akan
membaca sejarah Mujahid bernama Usamah.
Lalu
beliau memberikan kitab itu kepada salah seorang murid yang duduk di
pinggirnya sambil menyuruhnya untuk membaca kitab itu dan
memperdengarkan suaranya kepada seluruh teman temannya, pemuda itu
menerima kitab itu dengan penuh semangat dan sopan, ia kelihatan bangga
mendapat tugas itu dari Mulla. Lalu ia mulai membuka daftar isi Kitab,
dan memilih sebuah judul yang bertulis
“Kisah
Kedatangan Usamah bin Ladin ke Afghanistan dan perjuangannya dengan Ami
rul Mukminin Mul l a Muhammad Umar Mujahid ( Pemimpin Taliban )” kemudian ia mulai membaca Basmalah dan puji pujian kepada Allah SWT. dan di teruskan dengan membaca buku itu dengan lantang:
“Pada tahun 1417 H pada bulan Muharram, Usamah datang ke bumi Kandahar ( Wilayah Afghanistan ),
kedatangannya adalah karena ia terusir dari kaumnya di sebabkan ia
tegas menolak untuk ikut menyembah berhala yang bernama Amerika, ia
bertekad untuk memerangi Amerika tetapi ia tidak mendapat
sambutankaumnya kecuali hanya segelintir dari mereka, dan ada juga
beberapa gelintir dari negeri negeri lain yang sudi untuk ikut
bersamanya … tetapi mereka semua asing dan lemah, mereka tidak punya
kekuatan untuk membela diri.
Kemudian
Usamah mendatangi pimpinan pimpinan qabilah qabilah Arab, meminta
mereka untuk membantunya dan memberi jaminan tempat tinggal baginya dan
pengikutnya untuk mempersiapkan diri melawan kekuatan si Berhala
Amerika.
Suatu
hari ia mendengar bahwa hukum Islam di laksanakan di Sudan, ia mengirim
utusan untuk menemui sang Raja (Presiden ) untuk meminta bantuan
jaminan tempat tinggal baginya dan pengikutnya.
Sang
Raja berkata “Pintu kami selalu terbuka dan bumi kami adalah milik kita
bersama .. datanglah sebagai tamu terhormat…tanamkan hartamu di sini
dan jika kau sudi ikutlah bersama kami berjihad” (melawan pemberontak
Sudan yang di ketuai oleh John Garang)
Usamah
sangat gembira mendegar jawaban itu dan segera mempersiapkan diri untuk
berhijrah ke negeri Sudan, kemudian ia tinggal di sana dan mendirikan
berbagai Mu’askar (camp) dan melatih Mujahidin bersama pejuang dari
kalangan tentara Sang Raja, dan mereka gembira di sana untuk beberapa
waktu sambil membina negeri… jalan jalan di perbaiki, pasar pasar
menjadi ramai, dan negeripun makin makmur.
Suatu
hari berhala Amerika membentak Sang Raja dan berkata “Keluarkan mereka
dari negerimu” Sang Raja menjawab… “Daulat tuan… titahmu kami junjung
tinggi, demi mencari ridho mu”. Sang Raja berbalik kepada Usamah seraya
berkata: “Keluar dari negeri kami..!!!” Usamah menjawab “bukankah kita
telah mengikat perjanjian untuk berjihad bersama?” Sang Raja menjawab
“Ya… tetapi Jihad melawan John Garang dan bukan Amerika” Usamah menjawab
“sejak dahulu aku berniat menghancurkannya dan teman temannya” Sang Raja menjawab “tiadalah kami mempunyai kekuatan … keluarlah dari negeri ini”.
Mulla
memberi Isyarat kepada muridnya yang sedang asyik membaca untuk
berhenti sejenak karena beliau ingin memberi sedikit keterangan, lalu
Mulla berkata: “dalam hal Usamah, Sudan ternyata lebih takut kepada
Amerika berbanding kepada Allah swt. , dan ketika itu Sudan sempat
kebingungan karena harus melepaskan harta Usamah yang telah banyak di
tanamkan bagi perdagangan negeri itu, tetapi ketakutan Sang Raja Sudan
kepada Amerika ternyata lebih besar dari kepentingan rakyatnya sendiri,
hingga Sang Raja lebih memilih mengusir Usamah demi relanya sang
berhala, walau Amerika tetap masih tidak rela kepada Sang Raja Sudan,
karena Sang Raja enggan untuk turun dan di ganti oleh John Garang.” Kemudian Mulla berkata “baik lah… teruskan bacaanmu nak..!!!”
Si
pemuda yang tenggelam dengan keterangan Mulla tersentak dan bergegas
mencari baris terakhir yang di bacanya tadi..lalu ia meneruskan bacannya
“Usamah terpaksa mencari siapa yang sudi menjamin dan menolongnya untuk
menghancurkan sang berhala, lalu ia mendengar bahwa hukum Islam kembali
di laksanakan di Kandahar oleh suatu kaum yang menamakan diri sebagai
Taliban, mereka di pimpin oleh si pemberani bernama Mulla Muhammad Umar
Mujahid yang di juluki sebagai sang Amir, lalu Usamah mengutus utusan
kepadanya.
Amir Taliban berkata: “mari kita angkat senjata… melawan pemberontak dan perampok perampok di negeri kami”
Usamah menjawab “Tujuan kami menghancurkan sang berhala”
Amir menjawab “Allahu Akbar… menghancurkan berhala adalah Hobi kami”
Usamah menjawab “bukan sekadar hobi… tetapi demi Jihad Fi sabilillah”
Amir menjawab “kami memang Manusia Jihad dan anak anak yang lahir bersama desingan peluru, Peperangan adalah ibu yang menyusui kami”
Usamah berkata “Sanggupkah kamu bersamaku memerangi Pasukan Salib?”
Amir menjawab “berperang
dan berdamailah kepada siapapun yang kau kehendaki, berhubunganlah
dengan siapapun yang kau kehendaki, ambil seberapa banyak yang kau
kehendaki dari harta kami, kami pasti sabar dalam berperang dan berani
melangkah kedepan, walau kau ajak kami mengharungi lautan benua untuk
memerangi sang Berhala, pasti kan kami harungi bersamamu”
Usamah berkata “tapi kau akan di tembak oleh seluruh kaum Arab dan Romawi dari busur panah yang sama”
Amir menjawab “yakinlah bahwa semua itu tiada akan terjadi kecuali jika telah di izinkan oleh yang maha Menjadikan”
Usamah berkata “tetapi sang berhala akan datang dan mengupah berbagai Kabilah untuk menghabisimu”
Amir menjawab “Allah pelindung kami … sedang mereka tiada memiliki pelindung”
Usamah masih belum yakin, dan berkata “tahukah
engkau bahwa sang berhala mempunyai bala tentara dan pedang yang sangat
tajam? Mereka akan datang dan menguasai negerimu”
Amir menjawab “Ya kami tahu, tetapi kami tidak akan berkata seperti perkataan kaum Musa as. Kepada Nabinya “pergilah engkau berperang bersama Robbmu, dan kami akan tetap tinggal di sini” sungguh
wahai Usamah kami akan mengawalmu dari kanan dan kiri, depan dan
belakangmu, dengan harapan semoga Allah memperlihatkan kepadamu apa yang
menyenangkan hatimu, sungguh negeri ini belum pernah di jajah oleh
suatu tentara, pasti mereka akan lintang pukang lari… kecuali tentara
Qutaibah”
Usamah berkata “Umat manusia akan berlepas diri darimu dan penduduk bumi akan meninggalkanmu sendiri”
Amir menjawab “Cukuplah bagi kami keberadaan Allah, dan jika Allah sudi akan menyatukan kami dengan penghuni Firdaus di Langit”
Usamah berkata “mereka akan memboikotmu dan membiarkanmu kelaparan”
Amir menjawab “Sesungguhnya Allah Maha memberi Rezki dan maha mempunyai kekuatan yang besar”
Usamah berkata “mereka hanya ingin menangkapku”
Amir menjawab “tenanglah…mereka tidak akan menyentuhmu selagi mata kami belum tertidur”
Usamah berkata “apakah kalian akan menjagaku sebagaimana kalian menjaga
anak dan Isteri kalian?”
Amir menjawab “Ya
Demi Allah, bahkan mereka akan kami keluarkan dari rumah kami agar kau
bisa tinggal di rumah kami, Darah harus di bayar darah, kehancuran pun
begitu, Pukullah si berhala dan jangan lupa membaca Basmalah,
pukullah..!!! akan kami korbankan anak anak dan ibu ibu kami, pukullah
dan berlindunglah di belakang kami, biar leher kami mereka cekik asal
lehermu selamat, teruskan pukulanmu semoga Rabbul Jabbar bersama
kita”……..
Tiba
tiba si pemuda berhenti membaca karena mendegar isakan dari Mulla, ia
terkejut melihat Mulla telah menutupi mukanya dengan serban dan badannya
bergoncang menahan isakan sambil terus menerus bertakbir, seluruh
pemuda terdiam tanpa sepatah kata. Mulla mulai membersihkan matanya yang
telah di penuhi genangan air, kemudian berkata : “aku telah banyak
membaca buku buku sejarah, tetapi aku belum mendapati suatu kaum yang
lebih jujur dari mereka ketika menolong seseorang, kecuali kaum Aus dan
Khazraj, para Anshar yang menolong Rasul saw. Lihatlah kubur kubur
mereka di lereng lereng pegunungan Tora Bora, Shahikot, Kandahar dan
Kabul..(wilayah Afganistan ) sebagai
bukti bahwa mereka benar benar pemberani…aku mendengar bahwa tentara
Salib sempat menawan salah seorang dari mereka…kemudian ia di tawari
agar memberi tahukan keberadaan Usamah yang bersembunyi… dengan imbalan
ia akan di bebaskan kembali dan di beri uang…tetapi ia menjawab “Demi Allah kalau Usamah bersembunyi di bawah telapak kakiku, aku tidak akan mengangkatnya untuk menunjukkannya kepadamu”.
Kemudian Mulla kembali terisak…dan kali ini terdengar makin
keras..nampaknya Mulla sudah tidak bisa meneruskan pelajarannya lagi..
ia bangun meninggalkan kumpulan pemuda itu sambil terus menangis………
Subhanalloh….begitu
besar pembelaan, mereka kepada orang yang membawa panji Tauhid,
pengorbanan, semangat, keberanian, ketegasan mereka dalam mengusung
panji Alloh menjadi panji tertinggi, bagaimanakah dengan kita….
Semoga
Alloh menjadikan dan menguatkan hati kita untuk selalu berjalan dan
berjuang didalam barisan pengusung dan pembela panji-panji Alloh. Untuk
menegakkan Kalimat La ilaaha Illa Alloh menjadi Kalimat Tertinggi, memurnikan peribadahan hanya untuk Alloh Ta’ala. amiin.. 