Ahok: Saya Paling Tak Suka di Depan Iya-iya, di Belakang 'Menusuk'
Nograhany Widhi K - detikNews
Jakarta - Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok) rupanya tidak suka pejabat tipe Asal Bapak Senang (ABS).
Dia sering mempersilakan anak buahnya untuk berdebat bila tidak setuju,
dengan alasan yang masuk akal. Ahok paling tak senang dengan pejabat
'Yes Man' tapi di belakang menusuk.
"Saya mohon Bapak-bapak di
depan saya iya-iya di belakang cari-cari celah. Tidak dikerjain, lebih
baik saya copot saya ganti orang yang saya percaya Pak. Benar Pak. Saya
paling nggak suka orang seperti itu, di depan iya, di belakang nusuk,"
kata Ahok.
Hal itu dikatakan Ahok dalam rapat dengan Dinas
Pendidikan DKI dalam video yang diunggah di Youtube, Kamis (14/11/2012)
lalu, dan ditulis detikcom, Senin (19/11/2012).
Dalam video itu,
sebagian besar membahas tentang Sekolah MH Thamrin, Cipayung, Jakarta
Timur yang awalnya didirikan untuk warga tak mampu, kenyataannya diisi
murid-murid kaya. Ahok menginstruksikan untuk merevisi Rencana Kegiatan
dan Anggaran Sekolah (RKAS) Sekolah MH Thamrin.
Dia mempersilakan
anak buahnya, jajaran pejabat Disdik DKI untuk berdebat dengan alasan
yang logis bila tidak setuju. Seperti memotong anggaran Sekolah MH
Thamrin yang tak perlu.
"Bapak-bapak dengan sukarela memotong
anggaran yang tidak perlu, menyusun secara betul dengan hati nurani
Bapak, supaya kita tidak ada potong memotong. Karena saya juga manusia,
Pak, beliau manusia kalau dapat pungli bisa khilaf, bisa ada emosi, saya
juga sama, saya juga bisa emosi. Kalau saya khilaf, saya akan bawa
semua bukti itu nanti dipenjarakan, itu emosi saya," tegas Ahok.
Ahok
juga mengkritik guru-guru yang sudah memiliki Tunjangan Kesejahteraan
Daerah yang tinggi, tapi masih merekrut guru-guru dari swasta.
"Kasihan sekali DKI, gurunya banyak masih pakai guru swasta. Kelebihan guru kan, gaji besar tidak perlu mengajar," tuturnya.
Tunjangan
Kesejahteraan Daerah (TKD) di DKI, imbuhnya, sudah tinggi. Jadi bila
ada yang keberatan, banyak guru-guru dari Bekasi dan Tangerang yang
bersedia pindah mengajar di DKI.
"Tidak terima dari itu kan?
Mudah-mudahan dari sini keluar saja guru-guru yang masih pungut-pungut
iuran, saya harap berhenti saja dari DKI secara baik-baik, kami tanda
tangan baik-baik pindah ke provinsi yang lain. Saya tidak mau waktu kami
habis untuk urusan seperti ini," kata Ahok.
"Perbaiki Pak, Bapak
perbaiki, Bapak sudah ngerti maunya kami, jangan buang waktu kami.
Kepala sekolah hitung dengan nuraninya yang panjang. Kalau tidak, ya
tolong jangan mempersulit warga DKI. Ajukan pindah saja dari DKI. Saya
mohon-mohon dengan sangat, minta pindah saja dari DKI. Bapak ingatkan
beliau-beliau itu, jangan sampai saya yang koreksi. Kalau saya yang
koreksi saya akan putuskan di Bappeda, seperti itu siapa yang mau
jalankan. Kalau tidak mau jalankan, ya kita singkirkan," tegas Ahok.
Jangan
sampai, anggaran pendidikan DKI ini bocor seperti halnya anggaran di
bidang kesehatan di waktu lalu. Seperti program Jaminan Kesehatan Daerah
(Jamkesda).
"Biaya tindakan lebih mahal daripada biaya rumah
sakit di swasta. Jamkesda kita tiap tahun tekor Rp 200 miliar lebih,"
ungkapnya.
Akhirnya, disepakati bahwa Dinas Pendidikan DKI akan
menyerahkan revisi RKAS SMA MH Thamrin pada Jumat (23/11) pekan ini.
Sekolah MH Thamrin merupakan lembaga pendidikan negeri terdiri dari SD
hingga SMA. Menurut APBD bidang pendidikan, terdapat subsidi untuk
anak-anak miskin yang pintar untuk masuk sekolah unggulan. Sekolah MH
Thamrin didatangi Ahok karena terdapat kabar bahwa sekolah itu hanya
diisi siswa berduit.
Ketua Komite Sekolah MHT Dedi Windiyarso mengatakan sekolahnya menjadi mahal karena menggunakan tenaga pengajar dari luar.
"Jadi
biaya di sekolah ini menjadi mahal karena tenaga pengajar menggunakan
tenaga dari Surya Institute. Kontrak mereka sebenarnya sudah habis sejak
Agustus 2012 lalu. Tapi pengguna sekolah ini banyak yang fanatik," ujar
Ketua Komite Sekolah MH Thamrin, Dedi Windiyarso, Rabu (14/11/2012).
Dedi
juga menjelaskan kenapa dalam Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah (RKAS)
2012/2013, anggaran untuk membayar Surya Institute yang besarnya
mencapai Rp 2,06 miliar masih tercantum. Menurutnya ini merupakan bagian
dari keinginan sekolah untuk mencetak guru-guru yang handal sehingga
bisa menghasikan murid yang berprestasi.
"Kita ingin menjadikan
sekolah ini bukan hanya mencetak murid-murid yang hebat, tapi kita ingin
mencetak guru-guru yang handal serta manajemen yang transparan,"
terangnya.
SALAH SATU INSPIRATOR KALAU MAU MAJU HARUS MAU BERUBAH.